Minggu, 12 Agustus 2012


Kejayaan NUSANTARA
Menyebut Nusantara berarti merujuk pada wilayah kepulauan pra kolonial yang menjadi cikal bakal Negara Republik Indonesia kini. Negara dengan jumlah penduduk lebih dari 237.000.000 orang ini merupakan Negara kepulauan yang terbesar di Dunia yang terdiri dari 17.504 pulau ( termasuk 9.634 pulau yang belum diberi nama dan 6000 pulau yang tidak berpenghuni ). Keadaan tanah yang subur, potensi pulau yang kaya, dan terletak diantara dua benua dan dua samudera besar membuat posisi geografis bangsa Indonesia sangat strategis. Tidak heran jika banyak bangsa-bangsa lain di Dunia sejak dahulu ingin menguasai Taman Surga Nusantara ini. Dengan letak geografisnya yang strategis, menjadikan Nusantara sebagai “ Jalur Sutra Laut “ perdagangan internasional sejak dahulu.
Kondisi geografis yang sangat menguntungkan bangsa tersebut, diperkaya oleh keanekaragaman suku, etnis, agama, bahasa, dan adat istiadat. Sejatinya potensi-potensi itu harus dikelola untuk membangun dan memperkuat kesatuan dan persatuan bangsa demi pembangunan karakter asli bangsa Nusantara, bukan sebaliknya. Bagaimanapun, kita tidak akan pernah menjadi bangsa yang kuat, manakala kita, baik secara individu maupun kolektif tidak merasa memiliki bangsa ini.
Ikatan nilai-nilai kebangsaan yang selama ini terpatri kuat dalam kehidupan bangsa Indonesia yang merupakan pengejawantahan dari rasa cinta tanah air, bela Negara, dan semangat patriotisme bangsa sudah mengalami erosi bahkan hampir punah. Nilai-nilai budaya gotong royong, kesediaan untuk saling menghargai dan saling menghormati perbedaan serta kerelaan berkorban untuk kepentingan bangsa yang dulu melekat kuat dalam sanubari rakyat terasa makin menipis. Selain itu, kesadaran etnis yang sempit dipolitisir oleh kekuatan-kekuatan tertentu sehingga berujung pada tuntutan merdeka oleh sekelompok masyarakat di beberapa daerah. Anomali kebangsaan seperti ini menyebabkan bangsa yang kita cintai ini berada dalam ancaman perpecahan, dan pada gilirannya akan memudahkan kekuatan asing melakukan politik devide et impera.
Menuju Nusantara Jaya Dari segi peradabannya, bangsa Nusantara memiliki peradaban yang sangat tinggi, baik yang berbentuk teknologi maupun spiritual. Tidak ada bangsa di dunia hari ini yang memiliki kesadaran spiritual tinggi seperti yang diperlihatkan oleh bangsa Nusantara. Taman Eden yang digambarkan oleh Plato sangat mirip dalam hal budaya dan geografisnya dengan bangsa Nusantara. Tidak ada negara-negara di dunia yang memenuhi persyaratan-persyaratan yang digambarkan oleh Plato selain Nusantara ini. Sehingga dunia, suka ataupun tidak, harus mengakui bahwa bangsa Nusantara ini memiliki sejarah peradaban tinggi dan berposisi sebagai sentrum dunia. Bahkan kedepan, bangsa Nusantara sangat potensial menjadi mercusuar dunia, menjadi wasit dunia.
Kejayaan Nusantara ini sejalan dengan nubuatan para Nabi akan kebangkitan peradaban baru di akhir zaman yang berada di negeri sebelah timur, yakni Nusantara. Nubuatan ini juga diperkuat oleh nubuatan lokal dalam kitab-kitab karya para leluhur Nusantara. Mulai dari Jangka Jayabaya, ramalan Sabda Palon-Noyogenggong, Serat Darmogandul, Uga Wangsit Siliwangi, hingga ramalan Ronggowarsito tentang Satrio Piningit, yang kesemuanya berbicara akan berita gembira tentang akan datangnya saat kebangkitan dan kejayaan Bumi Nusantara sebagai mercusuar Dunia menjadi Negeri yang damai sejahtera, berdasarkan nilai-nilai kebenaran Universal yang bersumber dari Tuan Semesta Alam, Tuhan Yang Maha Esa. Jika hari ini banyak orang mulai membicarakan hal tersebut, karena memang kondisi alamnya sudah sangat mendukung, dan waktunya sudah dekat.